Wajah nya menengadah ke langit, seakan -akan bertanya kapan Tuhan mencabut nyawanya. Keriput di wajah dan tubuhnya sudah cukup mengisyaratkan kepedihan hidup yang ia derita. Ya, nenek pengemis di pojok pasar yang selalui terlihat mata ku saat melintas sepulang kantor.
Namun hari ini berbeda, saat aku melintas tepat di depan nya dia melirik ke arahku lalu tersenyum. Senyuman yang menyeramkan menurut ku. Karena sudah sekian lama aku melintas di depan nya dan baru hari ini aku melihat dia tersenyum. Aku pun segera memalingkan muka dan bergegas melanjutkan perjalanan.
Sesampai di rumah aku duduk di beranda menikmati angin sore yang sejuk. Sampai teringat kembali permasalah yang ku hadapi. Dan aku rasa tak ada seorang pun di dunia ini yang mau merasakan hal yang kurasakan sekarang. Proses perceraian yang sangat menyiksa, suami ku selalu menolak permintaan cerai dari ku. Dia beranggapan bahwa dia tidak bersalah, jelas-jelas dia selingkuh. "Dunia ini aneh dan begitu pun orang-orang yang mendiami nya. Aku ini seorang psikolog! bagaiman bisa dia berbohong dari ku. Aku ini wanita mandiri, dia pikir siapa dirinya yang bisa mempermainkan ku". Itu yang selalu ada di benak ku saat sampai di rumah.
Untunglah kami belum memiliki momongan sehingga proses nya menjadi tidak terlalu rumit. Jam 5 sore aku masuk kedalam, mandi dan membuat teh. Sambil memegang cangkir aku menuju beranda lantai 2, dimana pemandangan komplek kami tinggal terlihat sangat indah. Sebetul nya di balik wajah tegar ku banyak kepedihan yang tersembunyi. Perceraian ini menguras hatiku. Jika kembali kuingat wajah tampan nya dan perhatiannya dia kepada ku, hati ku kembali terhenyuh. Bagaimana orang setampan Alex dapat mengerjakan pekerjaan rumah dengan sangat baik?. Dia tidak pernah menunjukan derajat nya lebih tinggi dari pada ku, namun dia selalu bisa berperan dalam berbagai situasi. Menjadi badut ketika aku bersedih, menjadi penyanyi ketika aku butuh di hibur, menjadi koki ketika aku lapar dan menjadi seorang kepala rumah tangga ketika memutuskan sebuah perkara di bahtera kecil kehidupan kami. Tapi untuk masalah perceraian ini tekad ku sudah bulat, sudah tak ada Alex ku yang tampan dan penyayang. Yang ada sekarang adalah seorang pengkhianat bernama Alex.
Jam 8 pm Alex pulang, sudah beberapa minggu ini dia pulang malam. Jika ku tanya dia akan berkata "aku lembur!". Helllo !!kenapa bau alkohol hinggap di baju mu. Dan dia akan tersenyum lalu masuk ke kamar mandi, menyiapkan makan malam kami berdua dan memanggil diriku ketika makanan sudah siap di meja. Dia selalu memperlakukan ku dengan sangat baik, mengantarku ke depan mejamakan, mempersilahkan ku duduk. Dia memang lelaki sejati! Maksud ku lelaki bajingan yang sejati.
Tapi malam ini berbeda, saat ku tanya dia tidak menjawab. Dia langsung memasak makan malam dan menyiapkan nya di meja. Dia memanggil ku untuk makan, lalu memperlakukan ku seperti yang biasa dia lakukan. Kami hanya makan dan tidka ada perbincangan yang dilakukan. Hanya memandang satu sama lain. Denagn seluruh kebencian aku memandang wajah nya, seperti ingin ku terkam diri nya dan ku telan bulat-bulat. Namun pandangan nya kepada ku sangat sendu, pandangan yang penuh perhatian dan seakan - akan dia melihat aku sebagai anak kecil yang sangat ia kasihi. Hal ini membuat ku semakin geram. "Mengapa lelaki ini seperti tidak merasa bersalah?? Apakah waktu pembagain urat malu Alex absen??gumam ku.
Belum habis makanan di piring, aku langsung meninggalkan mejamakan dengan langkah berat. Alex memandang dan mengejarku. Kami berhenti di ruang keluarga, di situ aku marah dan kami bertengakr hebat. Sebetul nya yang bertengkar diriku sendiri, karena sumpah serapah dan cacian yang aku alamatkan kepada nya tidak terbalas. Dia hanya mendengar dengan seksama. Huahhhhh...apakah suara marah dan cacian ku ini merdu??Seperti prolog. Lebih baik seseorang menampar wajahku ketika aku marah pada nya dari pada dia hanya mendengar dan menganggap ku sebagai angin lalu. Habis sudah tenagaku, sudah tidak sanggup lagi emosi ini meluap. Aku duduk dan menangis. Tiba-tiba kecupan kecil yang penuh arti hinggap di kening ku. Dia memegang wajahku dengan kedua tangannya dan mengarahkan ke wajah nya. "percayalah aku tidak seperti Ayah mu", kata-kata itu begitu lembut dan tegas. Lalu Alex mengambilkan segelas air putih untuk ku. Lalu meninggalkan aku sendiri.
Keesokan harinya mata ku bengkak, kantung mata membesar. Astaga apa yang harus kulakukan ?? pikirku. Mungkin ini akibat semalam aku tidur dengan posisi tengkurap. Dan yang kumaksud tengkurap adalah total tengkurap di mana posisi ini di perlukan paru-paru yang besar untuk menyimpan cadangan oksigen dalam sekali hirup. Hah menyesal karena tertidur di sofa semalam. Jadi hanya bisa tidur satu gaya. Begitu keluar dari kamar mandi, hidup ini sudah di manja dengan harum nya bau nasi goreng. Ya ya ya, si tampan yang memasak. Nasi goreng nya lumayan enak. Terkadang aku berpikir apakah Alex yang kunikahi ini gay??namun setelah kuingat bagaimana liar nya kami bercinta aku mulai berpikir bahwa dia tidak gay. Tapi be sexual. "Angel, sarapan mu di meja! Aku berangkat duluan ya!". Biasanya dia mengantar aku ke kantor, namun sudah 2 minggu ini aku terus menolak.
Nasi goreng buatan Alex memang tidak ada dua nya. Rasa nya khas, sebetul nya dia itu cocok jadi koki. Karena apapun yang dia masak pasti enak. Berbeda dengan diriku yang tidak pandai memasak, sebetul nya kami saling melengkapi. Aku seorang koleris, dimana emosi ku bisa meledak saat tersulut dan Alex dapat meredam emosi itu. Dan sifat melankolis ku menuntut kesempurnaan terhadap apapun dan Alex yang mengajarkan ku untuk tidak memaksakan sesuatu hal sulit.
Jam 8 am aku berangkat ke kantor. saat melewati pasar aku melihat si nenek pengemis sudah ada di pojok pasar. Dengan posisi yang sama seperti kemarin kulihat. Wajah nya menengadah ke langit seakan - akan meminta Tuhan untuk mencabut nyawanya. hatiku iba, aku pun mendekat ke arah nenek untuk memberikan sekeping uang yang aku punya. Dengan sedikit menunduk aku menaruh koin ku di atas mangkuk nya. Tiba-tiba dia berkata,"ambil kembali koin mu, aku tidak membutuhkan nya !". "MAAF apa kata mu barusan???"aku bertanya dengan nada do yang paling tinggi. "Aku bilang ambil kembali koin mu!!karena kamu lebih membutuhkannya dari pada aku" setelah berkata demikian dia menoleh ke arah ku dan tersenyum. Aku geram dan menatap penuh kesal, "dasar tukang minta-minta tidak tau di untung, ini adalah hari terakhir aku menghampirimu untuk memberikan belas kasih ku! preet de cuihhhh. Si nenek pun tersenyum dan kembali ke posisi nya semula menengadahkan wajah nya ke langit.
Aku berjalan dengan kesal. "Hah pagi yang menyebalkan!".Sampai di kantor aku duduk di meja dan mulai melakukan pekerjaan ku. Komplain adalah hal pertama yang aku lakukan. Aku akan memeriksa setiap rincian pekerjaan anak buah ku. Dan selama ini tidak pernah ada yang tidak pernah kena kompalin. Bahkan satu tanda titik pun hilang akan ku cari. Anak buah ku menyebut ku "Hunter" karena aku suka mencari kesalahan seseorang. Senang rasanya bisa menjadi yang paling sempurna dan bisa menyalahkan orang lain.
Setiap jam makan siang adalah jam terberat dalam setiap hari yang ku lalui di kantor. Karena di jam makan siang aku merasa kesempurnaan terlalu membebani ku. Tidak ada seorang pun yang mau duduk bersama dengan ku. Maksud nya teman-teman ku dan anak buah ku, sesekali ada yang menemani di mejamakan adalah orang yang sama sekali tidak aku kenal. Dan beberapa saat kami kenalan dia langsung menjauh dari meja makan. "Apa ada yang salah dengan diriku yang terlalu sempurna??".
Bel kantor berbunyi, sebetul nya buka bel kantor hanya saja Erwin teman kantor ku yang suka berteriak ketika jam kerja berakhir. "Jam kantor telah SELESAI! Saat nya pulang " teriak Erwin, "hay Angel sayang ! Jangan lupa ingatkan aku untuk tidak mendekati mu ya! Aku tidak ingin mendengar omelan mu". "jangang ganggu aku !!!" jawab ku ketus.
Namun hari ini berbeda, saat aku melintas tepat di depan nya dia melirik ke arahku lalu tersenyum. Senyuman yang menyeramkan menurut ku. Karena sudah sekian lama aku melintas di depan nya dan baru hari ini aku melihat dia tersenyum. Aku pun segera memalingkan muka dan bergegas melanjutkan perjalanan.
Sesampai di rumah aku duduk di beranda menikmati angin sore yang sejuk. Sampai teringat kembali permasalah yang ku hadapi. Dan aku rasa tak ada seorang pun di dunia ini yang mau merasakan hal yang kurasakan sekarang. Proses perceraian yang sangat menyiksa, suami ku selalu menolak permintaan cerai dari ku. Dia beranggapan bahwa dia tidak bersalah, jelas-jelas dia selingkuh. "Dunia ini aneh dan begitu pun orang-orang yang mendiami nya. Aku ini seorang psikolog! bagaiman bisa dia berbohong dari ku. Aku ini wanita mandiri, dia pikir siapa dirinya yang bisa mempermainkan ku". Itu yang selalu ada di benak ku saat sampai di rumah.
Untunglah kami belum memiliki momongan sehingga proses nya menjadi tidak terlalu rumit. Jam 5 sore aku masuk kedalam, mandi dan membuat teh. Sambil memegang cangkir aku menuju beranda lantai 2, dimana pemandangan komplek kami tinggal terlihat sangat indah. Sebetul nya di balik wajah tegar ku banyak kepedihan yang tersembunyi. Perceraian ini menguras hatiku. Jika kembali kuingat wajah tampan nya dan perhatiannya dia kepada ku, hati ku kembali terhenyuh. Bagaimana orang setampan Alex dapat mengerjakan pekerjaan rumah dengan sangat baik?. Dia tidak pernah menunjukan derajat nya lebih tinggi dari pada ku, namun dia selalu bisa berperan dalam berbagai situasi. Menjadi badut ketika aku bersedih, menjadi penyanyi ketika aku butuh di hibur, menjadi koki ketika aku lapar dan menjadi seorang kepala rumah tangga ketika memutuskan sebuah perkara di bahtera kecil kehidupan kami. Tapi untuk masalah perceraian ini tekad ku sudah bulat, sudah tak ada Alex ku yang tampan dan penyayang. Yang ada sekarang adalah seorang pengkhianat bernama Alex.
Jam 8 pm Alex pulang, sudah beberapa minggu ini dia pulang malam. Jika ku tanya dia akan berkata "aku lembur!". Helllo !!kenapa bau alkohol hinggap di baju mu. Dan dia akan tersenyum lalu masuk ke kamar mandi, menyiapkan makan malam kami berdua dan memanggil diriku ketika makanan sudah siap di meja. Dia selalu memperlakukan ku dengan sangat baik, mengantarku ke depan mejamakan, mempersilahkan ku duduk. Dia memang lelaki sejati! Maksud ku lelaki bajingan yang sejati.
Tapi malam ini berbeda, saat ku tanya dia tidak menjawab. Dia langsung memasak makan malam dan menyiapkan nya di meja. Dia memanggil ku untuk makan, lalu memperlakukan ku seperti yang biasa dia lakukan. Kami hanya makan dan tidka ada perbincangan yang dilakukan. Hanya memandang satu sama lain. Denagn seluruh kebencian aku memandang wajah nya, seperti ingin ku terkam diri nya dan ku telan bulat-bulat. Namun pandangan nya kepada ku sangat sendu, pandangan yang penuh perhatian dan seakan - akan dia melihat aku sebagai anak kecil yang sangat ia kasihi. Hal ini membuat ku semakin geram. "Mengapa lelaki ini seperti tidak merasa bersalah?? Apakah waktu pembagain urat malu Alex absen??gumam ku.
Belum habis makanan di piring, aku langsung meninggalkan mejamakan dengan langkah berat. Alex memandang dan mengejarku. Kami berhenti di ruang keluarga, di situ aku marah dan kami bertengakr hebat. Sebetul nya yang bertengkar diriku sendiri, karena sumpah serapah dan cacian yang aku alamatkan kepada nya tidak terbalas. Dia hanya mendengar dengan seksama. Huahhhhh...apakah suara marah dan cacian ku ini merdu??Seperti prolog. Lebih baik seseorang menampar wajahku ketika aku marah pada nya dari pada dia hanya mendengar dan menganggap ku sebagai angin lalu. Habis sudah tenagaku, sudah tidak sanggup lagi emosi ini meluap. Aku duduk dan menangis. Tiba-tiba kecupan kecil yang penuh arti hinggap di kening ku. Dia memegang wajahku dengan kedua tangannya dan mengarahkan ke wajah nya. "percayalah aku tidak seperti Ayah mu", kata-kata itu begitu lembut dan tegas. Lalu Alex mengambilkan segelas air putih untuk ku. Lalu meninggalkan aku sendiri.
Keesokan harinya mata ku bengkak, kantung mata membesar. Astaga apa yang harus kulakukan ?? pikirku. Mungkin ini akibat semalam aku tidur dengan posisi tengkurap. Dan yang kumaksud tengkurap adalah total tengkurap di mana posisi ini di perlukan paru-paru yang besar untuk menyimpan cadangan oksigen dalam sekali hirup. Hah menyesal karena tertidur di sofa semalam. Jadi hanya bisa tidur satu gaya. Begitu keluar dari kamar mandi, hidup ini sudah di manja dengan harum nya bau nasi goreng. Ya ya ya, si tampan yang memasak. Nasi goreng nya lumayan enak. Terkadang aku berpikir apakah Alex yang kunikahi ini gay??namun setelah kuingat bagaimana liar nya kami bercinta aku mulai berpikir bahwa dia tidak gay. Tapi be sexual. "Angel, sarapan mu di meja! Aku berangkat duluan ya!". Biasanya dia mengantar aku ke kantor, namun sudah 2 minggu ini aku terus menolak.
Nasi goreng buatan Alex memang tidak ada dua nya. Rasa nya khas, sebetul nya dia itu cocok jadi koki. Karena apapun yang dia masak pasti enak. Berbeda dengan diriku yang tidak pandai memasak, sebetul nya kami saling melengkapi. Aku seorang koleris, dimana emosi ku bisa meledak saat tersulut dan Alex dapat meredam emosi itu. Dan sifat melankolis ku menuntut kesempurnaan terhadap apapun dan Alex yang mengajarkan ku untuk tidak memaksakan sesuatu hal sulit.
Jam 8 am aku berangkat ke kantor. saat melewati pasar aku melihat si nenek pengemis sudah ada di pojok pasar. Dengan posisi yang sama seperti kemarin kulihat. Wajah nya menengadah ke langit seakan - akan meminta Tuhan untuk mencabut nyawanya. hatiku iba, aku pun mendekat ke arah nenek untuk memberikan sekeping uang yang aku punya. Dengan sedikit menunduk aku menaruh koin ku di atas mangkuk nya. Tiba-tiba dia berkata,"ambil kembali koin mu, aku tidak membutuhkan nya !". "MAAF apa kata mu barusan???"aku bertanya dengan nada do yang paling tinggi. "Aku bilang ambil kembali koin mu!!karena kamu lebih membutuhkannya dari pada aku" setelah berkata demikian dia menoleh ke arah ku dan tersenyum. Aku geram dan menatap penuh kesal, "dasar tukang minta-minta tidak tau di untung, ini adalah hari terakhir aku menghampirimu untuk memberikan belas kasih ku! preet de cuihhhh. Si nenek pun tersenyum dan kembali ke posisi nya semula menengadahkan wajah nya ke langit.
Aku berjalan dengan kesal. "Hah pagi yang menyebalkan!".Sampai di kantor aku duduk di meja dan mulai melakukan pekerjaan ku. Komplain adalah hal pertama yang aku lakukan. Aku akan memeriksa setiap rincian pekerjaan anak buah ku. Dan selama ini tidak pernah ada yang tidak pernah kena kompalin. Bahkan satu tanda titik pun hilang akan ku cari. Anak buah ku menyebut ku "Hunter" karena aku suka mencari kesalahan seseorang. Senang rasanya bisa menjadi yang paling sempurna dan bisa menyalahkan orang lain.
Setiap jam makan siang adalah jam terberat dalam setiap hari yang ku lalui di kantor. Karena di jam makan siang aku merasa kesempurnaan terlalu membebani ku. Tidak ada seorang pun yang mau duduk bersama dengan ku. Maksud nya teman-teman ku dan anak buah ku, sesekali ada yang menemani di mejamakan adalah orang yang sama sekali tidak aku kenal. Dan beberapa saat kami kenalan dia langsung menjauh dari meja makan. "Apa ada yang salah dengan diriku yang terlalu sempurna??".
Bel kantor berbunyi, sebetul nya buka bel kantor hanya saja Erwin teman kantor ku yang suka berteriak ketika jam kerja berakhir. "Jam kantor telah SELESAI! Saat nya pulang " teriak Erwin, "hay Angel sayang ! Jangan lupa ingatkan aku untuk tidak mendekati mu ya! Aku tidak ingin mendengar omelan mu". "jangang ganggu aku !!!" jawab ku ketus.
Komentar
Posting Komentar